Senin, 16 09 2019
Follow:
 
FAKTA POST / Pelalawan
Memperkenalkan Kekayaan Hutan TNTN Lewat Objek Wisata
Selamatkan Hutan Tesso Nilo Bupati Harris Dan Menhut Bangun Kerjasama

Rabu, 08/07/2015 - 14:37:24 WIB

"TNTN memiliki keanekaragaman hayati berupa 360 jenis flora dalam 165 marga dan 57 suku, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia yang hidup Selain itu, TNTN juga merupakan area jelajah harimau Sumatera (panthera tigris Sumatrae) dan habitat asli dari gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus). Populasi hewan bongsor berbelalai itu diperkirakan berkisar 150-200 ekor di TNTN".

Kabupaten Pelalawan tak sekedar memberikan negeri ini nama karena punya industri kertas kelas dunia, tapi juga mempersembahkan paru-paru bagi dunia lewat Taman Nasional Tesso Nilo.

 
FAKTAPOST.COM-PELALAWAN: Hutan Tesso Nilo yang dikenal sebagai hutan penyangga paru-paru dunia belakangan menjadi dilema bagi pemerintah. Hutan Tesso Nilo yang seharusnya jauh dari tangan - tangan jahil tak bertanggungjawab kini malah menjadi problem nasional.
 
Menyadari hutan Tesso Nilo dirambah secara liar maka pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan Khususnya melakukan terobosan penyelamatan menyeluruh guna mengembalikan fungsi hutan sebenarnya.
 
Mencermati kondisi ini, Bupati Pelalawan, H. Harris tertantang menempatkan penyelamatan hutan Tesso Nilo melalui program pembangunan OBJEK WISATA TNTN yang termasuk dalam tujuh program prioriritas pembangunan Pelalawan.
 
Keistimewaan Hutan Tesso Nilo adalah:  TNTN yang sebagian kawasannya masuk wilayah Kabupaten Pelalawan tersebut adalah hamparan hutan lestari nan permai. Tidak sekedar floranya yang terlindungi, tetapi juga faunanya. Di kawasan suaka tersebut terdapat habitat gajah.
 
Tesso Nilo adalah harapan masa depan. Tidak sekedar harapan masyarakat Pelalawan, tetapi Riau, Indonesia, bahkan masyarakat dunia. Mengingat, di saat terjadi pemanasan global karena hutan yang terus dibabat, Tesso Nilo bertahan dalam kelestariannya. Di saat udara sesak karena tebalnya polusi, Tesso Nilo muncul menawarkan kesegaran bagi paru-paru dunia.
 
Sebagai sebuah kewasan lestari, Tesso Nilo yang sangatlah mempesona. Tidak hanya karena hutan alamnya, tetapi juga karena kelengkapi ekologi di dalamnya. Di sana tak sekedar ada hutan, tetapi damai berbiak penghuninya. Seperti Harimau Sumatera, gajah, tapir, rusa, dan beragam fauna lainnya yang sulit ditemukan di tempat lain di muka bumi.
 
Karena keberagaman ekologinya itulah Tesso Nilo memiliki beragam nilai lebih sebagai sebuah kawasan konservasi sekaligus potensi destinasi pariwisata penuh petualangan. Kehadiran kawanan gajah terlatih yang tergabung dalam Flying Squad atau kawanan gajah pengusir gajah liar adalah daya tarik sensasional.
 
Secara giografis, Tesso Nilo terletak di Provinsi Riau - Indonesia. Merupakan salah satu dari 200 Ecoregion WWF Global. WWF berjuang untuk melestarikan Hutan Tesso Nilo dan menjadikannya sebagai contoh bentang alam hutan dataran rendah Sumatra yang paling luas. Hutan Tesso Nilo terbentang di empat kabupaten yaitu Pelalawan, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, dan Kampar.
 
Seluas 38. 576 hektar hutan Tesso Nilo yang terletak di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu ditunjuk menjadi Taman Nasional Tesso Nilo pada 19 Juli 2004. Pada 19 Oktober 2009, taman nasional tersebut diperluas menjadi + 83.068 hektar.
 
Keistimewaan TNTN ini, pada setiap hektar terdapat 360 flora yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia. Taman Nasional Tesso Nillo merupakan salah satu sisa hutan dataran rendah yang menjadi kawasan konservasi dan tempat tinggal ratusan ekor gajah.
 


Pengunjung dapat menjelajahi seantaro hutan Tesso Nilo sambil duduk di atas gajah, atau ikut berpatroli bersama tim Flying Squad. Pengunjung yang ingin memacu andrenalinnya dapat turut serta secara langsung menggiring gajah-gajah liar ke habitatnya. Di areal hutan ini pengunjung dapat menjumpai jejak-jejak harimau Sumatera atau satwa liar lainnya, seperti tapir, beruang, macan dahan dan lainnya.
 
Perluasan Taman Nasional Tesso Nilo merupakan perwujudan komitmen bersama antara Departemen Kehutanan, pemerintah Provinsi Riau dan Kabupaten Pelalawan yang didukung oleh Forum Masyarakat Tesso Nilo, Yayasan TN Tesso Nilo dan LSM -- seperti tercantum dalam Kesepakatan Bersama mengenai Perluasan Taman Nasional Tesso Nilo dan Penanganan Illegal Logging, Perambahan dan Kebakaran Hutan dan Lahan di kawasan Tesso Nilo pada akhir Agustus 2008 di Pekanbaru.
 
Perluasan TNTN juga merupakan langkah konkrit Departemen Kehutanan dalam mengimplementasikan Peraturan Menteri Kehutanan No.P.54/Menhut-II/2006 tentang Penetapan Riau sebagai pusat konservasi gajah Sumatera. Lanskap hutan Tesso Nilo di Provinsi Riau merupakan salah satu benteng pertahanan terakhir bagi gajah dan harimau Sumatera. Dengan lebih dari 4000 jenis tumbuhan yang tercatat sejauh ini, ditemukan lebih dari 200 spesimen tumbuhan di dalam setiap plot 200 meter persegi.
 
Semangat ini juga yang mendorong Bupati Pelalawan HM Harris, menjadikan , Taman Nasional Tesso Nilo, ini menjadi salah satu objek wisata. Sasaran yang dicapai, objek ini nanti menjadi salah satu objek wisata alam nasional bahkan internasional.
 

Menhut dan Pemkab Pelalawan Kerjasama
 
 
Menteri Kehutanan Republik Indonesia Pada kunjungan kerjanya ke Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo dan dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan Infrastuktur Pusat Konservasi Gajah (PKG) Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyempatkan melakukan Temu Muka dengan warga dari beberapa desa yang ada disekitar kawasan di Flying Squad Camp desa Lubuk Kembang Bungo, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan Riau, Kamis (7/2).
 
Dalam sambutannya Menhut tawarkan program transmigrasi lokal kepada Pemerintah Kabupaten pelalawan untuk merelokasi 2400 KK warga yang saat ini menempati kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Menhut juga berjanji akan membantu melalui anggaran pemerintah pusat untuk program ini. Cara ini merupakan salah satu solusi penting yang harus diambil untuk mengatasi persoalan Taman Nasional Tesso Nilo, ungkap Menhut.
 
Selain itu, Menhut juga menjanjikan akan mengupayakan bantuan dana Kebun Bibit Rakyat masing-masing Rp50 juta untuk 22 desa yang ada di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo . Bantuan ini natinya dapat digunakan warga untuk membangun Kebun Bibit Rakyat.
 
Menteri juga menghimbau perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Pelalawan untuk membantu warga. "Perusahaan tidak akan bangkrut jika membantu warga. Perusahaan pelit bakal pailit. Dan perusahaan akan semakin maju jika disenangi oleh warga sekitarnya," kata Menhut.
 
Dalam Temu muka itu Menhut didampingi Dirjen Pengelolaan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Darori, Dirjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDAS dan PS) Hilman Nugroho, Bupati Pelalawan, HM Harris, Bupati Bengkalis Herliyan Saleh, anggota DPRD Pelalawan, Nazaruddin Arnazh, Direktur Taman Safari Indonesia Dr Jonsen Manangsang, CEO WWF Indonesia, Dr Efransyah Nasution, Presiden Direktur PT RAPP Kusnan Rahmin, Dandim Kampar Pelalawan, Danrem 031 Wira Bima, Kapolres Pelalawan.



Menhut Zulkifli Hasan mengakui, ekosistem di pulau Sumatera, terutama di Taman Nasional Tesso Nilo sangat luar biasa, termasuk gajahnya."Artinya kita memiliki hal yang sangat luar biasa. Oleh karena itu kita sebagai manusia harus bisa menghargai hewan yang ada di sini. Dengan masih adanya hewan di Taman Nasional Tesso Nilo menandakan kita masih aman dan menandakan ekosistemnya belum rusak," kata Menhut.
 
"Oleh karena itu permasalahan yang ada harus diselesaikan dengan bijak. Kalau ada win-win solution, saya yakin permasalahan yang ada bisa terselesaikan. Yang berhak maju bukan perusahaan saja, tapi masyarakat juga," tegasnya.
 
Menhut berjanji, dalam tiga bulan ke depan, pihaknya akan mengintensifkan pertemuan dengan Bupati Pelalawan untuk mencari solusi terkait persoalan yang terjadi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. (adv/dl/fpc)

"Semua tak akan bisa sukses tanpa kerja sama dan peran serta dari masyarakat," ungkap Menhut. *(ADV/FPC)

virgin hair diamond jewelry

Copyright 2013 - 2015 PT. FAKTAPOST MEDIA CITRA, All Rights Reserved
[ REDAKSI & MANAJEMEN ]