17:59 | Dari Bedah Kasus Berita Ramah Anak - 17:59 | JURNALISTIK DI ERA PERKEMBANGAN TEKNOLOGI - 17:58 | Hj.Mufida Jusuf Kalla Beri Bantuan Kepada Sentra Tenun Lintau Buo - 17:58 | Jelang Pengesahan Warga Baru Pencak Silat di Lamongan - 17:58 | Wabup H.Zuldafri Darma:Empat Destinasi Wisata Unggulan Tanah Datar
Senin, 16 09 2019
Follow:
OPINI
Oleh: David Leo Lase
UKW Bukan Malaikat Pencabut Nyawa
Selasa, 16/01/2018 - 15:20:10 WIB

Ujian Kompetensi Wartawan atau nama trendnya UKW , bagi sebagian wartawan didaerah menganggap sebuah upaya meng-eliminir wartawan - wartawan tertentu termasuk wartawan yang bekerja di media mingguan.

Pandangan ini adalah sudut pandang yang bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya, kalau boleh saya katakan pandangan seperti ini merupakan penilaian pesimistis terhadap kemampuan diri sendiri dalam dunia jurnalistik.

Penilaian ini bukan cuma dialami segelintir teman - teman tetapi realita yang saya rasakan.

Saya ( David Leo Lase ) penulis artikel ini harusnya mengikuti UKW pada bulan Oktober 2017. Jujur saya katakan, dari cerita teman - teman yang lebih dahulu mengikuti UKW menyebutkan untuk mengikuti UKW perlu kesiapan serius apalagi jenjang Utama. Dalam berbagai cerita itu tertangkap kesan yang membuat nyali saya ciut dan akhirnya saya mengundurkan diri untuk ikut pada waktu itu.

Merenung diri dan berpikir positif, akhirnya November 2017 saya memutuskan untuk ikut UKW dengan komitmen " jika tidak lulus saya alih profesi dan jika dinyatakan Kompeten berarti saya mampu menjalani profesi ini".

Syukur bagi Tuhan, sepanjang mengikuti tahap UKW di Lembaga Pers Doktor Soetomo ( LPDS ) di gedung Dewan Pers itu saya diizinkan untuk mampu menjalaninya dengan baik.

Untuk teman - teman, dalam sesi demi sesi mengikuti UKW ada detik - detik yang menegangkan. Salah satunya adalah ruangan yang asing dan teman - teman peserta yang baru ditambah penguji yang sudah berdiri dihadapan kita. Situasi ini sesungguhnya bukanlah hal yang baru bagi wartawan tetapi kita telah ter-intimidasi terlebih dahulu oleh perasaan pribadi karena istilah UJIAN.

Buktinya, pada saat pertama kali pengajar menyapa kami dengan ucapan selamat pagi dan diteruskan dengan memperkenalkan diri, kami sebagai peserta terkesan menjawab dengan nada setengah suara. " tenang...tenang, santai saja kata pak Priyo kita belum masuk ujian".

Situasi lain yang mendebarkan ialah saat peserta sudah dibagi kelas dan pengajar mulai memaparkan materi ujian, umumnya disini peserta merasa keringat jagung karena memikirkan hal - hal yang belum tentu akan kita hadapi.

Catatan ringan ini adalah catatan apa adanya dan semoga menjadi bekal untuk teman - teman yang berniat mengikuti UKW. UKW bukanlah malaikat pencabut nyawa yang menyikirkan kita dari profesi wartawan tetapi sebuah proses mengasah kemampuan dan pengembangan diri. Salam

Telah dibaca sebanyak (1323) kali

Index Opini
JURNALISTIK DI ERA PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

Dari Bedah Kasus Berita Ramah Anak

Riau Disalai Asap

Sang Inspirator, Penyambung Asa Anak Nagari

"PERTAHANKAN BISNIS LNG, 100% UNTUK NEGARA"

"Off The Record" dan Tantangannya

JEJAK BERDIRINYA ARKANIS - PERUBAHAN

Sepak Terjang Syamsuar, Selain Putra Asli Nan Religi, Juga Pamong Birokrat Riau

Freeport, Blok Rokan, dan Literasi Konstitusi

SEJARAH KANITA

virgin hair diamond jewelry

Copyright 2013 - 2015 PT. FAKTAPOST MEDIA CITRA, All Rights Reserved
[ REDAKSI & MANAJEMEN ]